Purwa Tjaraka; Tak Bisa Lepas Dari Musik

purwa1

Sejak kecil orangtuanya sudah mengenalkan berbagai jenis musik. Dari sering mendengarkan musik itulah Purwa kecil berkeinginan kursus piano

Velly Kristiani; Belajar Mandiri Dari Anak Rantau

velly1

Ada pepatah kuno mengatakan ‘belajarlah sampai negeri cina’, hal itu mungkin yang mengilhami Velly Kristianti, Direktur sekaligus pemiliki merk franchise

Gilang Ramadhan; Sukses Berkarir, Suksen Berumah Tangga

gilang1

Selain sukses dalam berkarir, Gilang juga sukses dalam membangun rumah tangganya. Tak sekalipun terdengar gossip miring yang ditujukan kepadanya

Novita Tandry; Penting Membangun Karakter Anak Sejak Dini

4 July, 2011

Dibalik wajahnya yang cantik, Managing Director Tumble Tots Indonesia ini ternyata memiliki watak yang sangat keras, namun demikian jika ia sudah berhadapan dengan anak-anak wataknya yang keras akan berubah dratis menjadi seorang perempuan yang lembut dan penuh kasih sayang.

Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, perempuan kelahiran Kendari, 9 Maret 1971 ini sudah senang mengumpulkan anak-anak. ”Berinteraksi dengan anak-anak membuat semua stres hilang karena mereka polos dan apa adanya,” kata Novita

Kecintaan kepada anak-anak itulah yang membulatkan tekadnya untuk menjadi seorang psikologis anak dan dan cita-cita itu akhirnya menjadi kenyataan, “Cita-cita saya sejak kecil juga konsisten yaitu ingin menjadi psikolog anak,” tutur Alumni Psikologi Pendidikan dari University of New South Wales, Australia ini

Kecintaannya terhadap anak-anak diwariskan oleh kebiasaan orang tuanya, terutama sang ayah. Saat ia masih kecil sang ayah sering memperlakukannya dengan kasih sayang yang luar biasa, “Papa selalu menyempatkan diri membacakan dongeng sebelum kami tidur. Pokoknya papa is the best,” ujar sulung dari tiga bersaudara ini

Pengalaman hidup semasa kecil itulah yang membuatnya tersadar bahwa anak-anak membutuhkan kedekatan secara fisik dan emosional dengan orang tuanya. ”Usia 0-5 tahun adalah usia terpenting manusia karena 70 persen karakter seseorang dibentuk pada usia tersebut dan saya tidak mau kehilangan momen itu,” jelas Novita.

Kesadaran akan hal itulah yang akhirnya membawa Novita pada keinginannya menghadirkan sebuah lembaga pendidikan yang bisa menyadarkan para orang tua tentang pentingnya membentuk karakter anak melaui kedekatan dengan orang tuanya.

Perempuan yang hobi dan pintar memasak ini akhirnya melirik sistem pendidikan yang diterapkan Tumble Tots. Bukan hal mudah membawa sistem pendidikan Tumble Tots ke Indonesia, ia sempat ditolak manajemen Tumble Tots wilayah Asia Pasifik saat akan membeli lisensi Tumble Tots.

Dan beruntunglah Novita memiliki karakter yang keras, ia terus meyakinkan pihak Tumble Tots bahwa ia mampu menjalankan sistem Tumble Tots di Indonesia. ”Mungkin karena mereka melihat saya anak ingusan. Apalagi usia saya waktu itu masih sekitar 21 tahun dan dia lebih tua dari ibu saya,” ujar Novita.

Kekerasan hati dan kegigihan Novita akhrinya membuahkan hasil, pimpinan Tumble Tots wilayah Asia Pasifik akhirnya memberikan izin membuka Tumble Tots, meski izinnya hanya untuk membuka satu cabang, bukan memegang lisensi untuk wilayah Indonesia.

Perempuan yang juga menggemari olah raga angkat berat ini tak menyia-nyiakn kepercayaan yang diberikan kepadanya. Dengan segala keterbatasan dana ia terus berjuang dengan gigih. Ia membuka cabang pertama di Blok M dan sukses. Kesuksesan itu membuatnya dipercaya untuk membuka cabang-cabang baru hingga berjumlah 48 cabang Tumble Tots di lebih dari 10 kota.

Berbicara tentang perempuan, Novita mengaku beruntung dilahirkan sebagai perempuan. Sebagai entrepreneur perempuan, Novita merasa memperoleh berkah tersendiri karena sering lebih mudah memproses berbagai urusan, semisal perizinan usaha. “Saya merasa kaum pria di Indonesia lebih menghargai perempuan,” ujar penulis buku berjudul Bad Behaviour, Tantrums, and Tempers ini

Namun, di sisi lain ia juga merasa sebagai perempuan tidak mudah menjadi entrepreneur, sebab harus multitasking. Maklum, kebanyakan pengusaha perempuan juga merangkap sebagai istri dan ibu yang harus mengurus rumah tangga dan mendidik anak. “Pokoknya, harus pintar mengelola waktu,” katanya menegaskan. Karena itu, Novita berpendapat, perempuan sukses adalah mereka yang berhasil dari berbagai aspek hidupnya, tidak semata-mata omset bisnisnya


Give a comment?