Purwa Tjaraka; Tak Bisa Lepas Dari Musik

purwa1

Sejak kecil orangtuanya sudah mengenalkan berbagai jenis musik. Dari sering mendengarkan musik itulah Purwa kecil berkeinginan kursus piano

Velly Kristiani; Belajar Mandiri Dari Anak Rantau

velly1

Ada pepatah kuno mengatakan ‘belajarlah sampai negeri cina’, hal itu mungkin yang mengilhami Velly Kristianti, Direktur sekaligus pemiliki merk franchise

Gilang Ramadhan; Sukses Berkarir, Suksen Berumah Tangga

gilang1

Selain sukses dalam berkarir, Gilang juga sukses dalam membangun rumah tangganya. Tak sekalipun terdengar gossip miring yang ditujukan kepadanya

Ade Rai; Olahragawan Sejati

20 June, 2011

Tubuhnya gempal serasa berotot kawat balung besi. Namun bagi I Gusti Agung Rai Kusuma Yudha, binaragawan internasional, itu belumlah cukup. Tambah satu lagi: rambut gondrong. Ia merasa tidak keren tanpa rambut gondrong itu. Ia memang tampak semakin macho dengan badan muscle dan rambut sepundak yang selalu dikuncir. Menurut dia, itu untuk mengimbangi wajahnya yang tirus.

”Coba Anda bayangkan kalau rambut saya pendek, pasti nggak pantes,” ujar Ade memberi alasan. Dengan badan yang atletis dan tampang oke itu ia sering jadi perhatian dan dikerubuti kaum perempuan. Bagaimana rasanya? “Tanya saja pada mereka,” ujarnya sambil tersenyum.

Cita-citanya sejak kecil memang ingin menjadi olahragawan. Sedari SMP ia serius menekuni tepok bulu angsa. Saking seriusnya menekuni bulutangkis, ia sempat bergabung dengan klub Tangkas dan Djarum. Terhitung Ardy B. Wiranata, Susi Susanti, dan Ricky Subagja adalah teman-teman seangkatannya di PB Tangkas. “Cita-cita kami sama waktu itu, menjadi pebulutangkis nasional. Tapi mereka lebih memiliki tekad ketimbang saya,” tutur pria yang berwajah tak berdosa ini. “Rasanya saya tak akan mendapat apa-apa dari bulutangkis. Apalagi prestasi sekolah saya juga melorot,” ujar alumnus Hubungan Internasional Universitas Indonesia itu.

Pensiun dari bulutangkis, ia mengisi waktu luangnya dengan berolahraga semisal angkat barbel, bela diri, dan bolavoli. Suatu hari SMA-nya mengadakan pertandingan panco dan Ade menjuarainya. “Mungkin karena terbiasa latihan bulutangkis, lengan saya menjadi kuat,” tuturnya. Mulai saat itu ia tambah rajin angkat beban, sit up, dan push up. Tanpa disadarinya lama-kelamaan malah tubuhnya yang terbentuk, dan bukan lengannya saja.

Tubuh yang menjadi atletis membuatnya makin hari makin cinta pada binaraga. Pada 1992, tak ia sangka, dengan persiapan ala kadarnya, ia menjuarai kejuaraan nasional binaraga. Rezekinya pun mengalir dari bisnis membangun tubuh itu. Bukan ia saja yang kaget, orang tuanya pun terperangah. “Mulanya orang tua saya bertanya-tanya. Buang-buang waktu saja angkat-angkat barbel, mending waktunya buat belajar,” kenangnya. Toh dari buang-buang waktu itulah hari depannya menjadi nyata.

Dahulu, ketika SMA, Ade pernah membayangkan dirinya menjadi seorang polisi. Ia termotivasi ingin mengubah citra polisi yang lagi merosot. Ia pun memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Tetapi dalam kenyataannya, menjadi polisi tidak mudah, begitu menurut pengamatannya kemudian. Angan-angannya itu pun dibiarkannya lepas.

Lantaran terlanjur memilih IPS dan enggan menjadi polisi, ia pun terpikir menimba ilmu di fakultas hukum. Lagi-lagi ia gagal. Ia pun banting setir ke jurusan Hubungan Internasional, “Saya senang pelajaran tata negara dan pingin menjadi diplomat,” tuturnya. “Tapi setelah saya geluti, saya menyadari tidak mampu, walaupun kuliahnya selesai,” tutur putra pasangan I.G. Rai Widjaya dan Selena Susanti ini.

Ia membentuk tubuhnya secara otodidak. Maklum informasi dan pelatihan mengenai binaraga yang benar sangat sulit didapatkan. Ade mengakalinya dengan membaca majalah dan buku dari luar negeri, dan menonton video, yang dipadu latihan keras. Hasilnya, ia sekarang menjadi binaragawan kaliber internasional. Ia bahkan menularkan ilmunya itu melalui pelatihan, seminar, dan talk show. “Fitnes bukan hanya untuk atlet tapi bagi siapa saja, termasuk ibu-ibu,” katanya.

Ade ternyata punya naluri seorang wiraswasta, dengan menyulap olah tubuh menjadi peluang usaha. Sarana fitnes di Jakarta yang bagus dan canggih tapi masih terbilang mahal, menggelitiknya. Ade menjawabnya dengan membangun Club Ade Rai. Pertumbuhannya lumayan, sampai saat ini telah beroperasi di 12 tempat. “Konsepnya mencoba dengan fasilitas yang sedang, tapi bisa mencakup siapa saja dari segi harga,” tutur Ade berpromosi. Ade mengaku sanggar fitnes itu bukan miliknya sendiri, ia menerapkan bagi hasil dengan menjual nama dan manajemennya.

Ade memang termasuk binaragawan yang beruntung di tengah organisasi PABBSI (Persatuan Angkat Berat Besi dan Binaraga Seluruh Indonesia) yang kinerjanya belum optimal. Dan pembinaannya masih campur aduk antara angkat besi dan binaraga. “Atlet binaraga tidak mendapat pekerjaan, tempat tinggal, dan peningkatan kesejahteraan. Sulit bila menggantungkan hidup sebagai atlit binaraga,” terang suami dari Kenny Amelia ini.

Karirnya memang mulus, tapi ia pernah terantuk skorsing menjelang suatu pertandingan tingkat Asia. Ini gara-gara ia membintangi produk makanan. “Aneh, memangnya mereka membiayai hidup saya,” katanya menuding induk organisasi binaraga-angkat berat, PABBSI. “Lagipula kontrak iklan itu sudah selesai sebelum Asian Games dimulai,” tambah binaragAwan yang sudah sering melanglang buana dan meraih beberapa juara tingkat dunia.

Hari-hari latihannya ternyata bukan melulu angkat barbel. Ia main Playstation di kala senggang. Menurutnya, itu untuk melatih mental dan strategi: kalah menang dalam permainan, ia harus menyelesaikannya. Nah, ia paling suka game sepak bola  bahkan ia memainkannya di dalam mobilnya. Inter Milan dan Brazil adalah klub andalannya bila main game.


Give a comment?