Purwa Tjaraka; Tak Bisa Lepas Dari Musik

purwa1

Sejak kecil orangtuanya sudah mengenalkan berbagai jenis musik. Dari sering mendengarkan musik itulah Purwa kecil berkeinginan kursus piano

Velly Kristiani; Belajar Mandiri Dari Anak Rantau

velly1

Ada pepatah kuno mengatakan ‘belajarlah sampai negeri cina’, hal itu mungkin yang mengilhami Velly Kristianti, Direktur sekaligus pemiliki merk franchise

Gilang Ramadhan; Sukses Berkarir, Suksen Berumah Tangga

gilang1

Selain sukses dalam berkarir, Gilang juga sukses dalam membangun rumah tangganya. Tak sekalipun terdengar gossip miring yang ditujukan kepadanya

Marianne Admardatine; Selalu Ada Jalan Dalam Meraih Sukses

27 June, 2011

Perempuan berdarah campuran Jawa dan Cheko ini adalah seorang General Manager Pulse Communication –Ogilvy  Public Relations Worldwide sejak 2006 lalu. Kiprahnya di Pulse Communication memang baru lima tahun tetapi prestasinya tidak bisa dianggap remeh. Banyak perusahaan besar mempercayakan kegiatan-kegiatannya dalam memperkenalkan produknya kepada Pulse Comunication. Bahkan perusahaan sekelas Unilever Indonesia sering menggunakan jasa Pulse Communication untuk berbagai kegiatan.

Keberhasilan membangun Pulse Communication  memang tak lepas dari kerja keras perempuan kelahiran Malang, 25 Oktober 1970 ini. Ditemui disela-sela kesibukannya, Marianne bercerita banyak menganai plihan profesinya itu. Sejak remaja, anak tunggal ini memang telah mengakui telah tertarik dengan dunia komunikasi. Walau basic pendidikannya tidak murni di PR, namun ia banyak menghabiskan waktunya untuk belajar ilmu komunikasi tepatnya pada jurusan B.A Arts (Tourism & Advertising) di University of Canberra Australia.

Namun demikian setelah ia lulus, ia justru lebih memilih bekerja disebuah hotel di Pulau Bali. Perempuan yang  memiliki anak kembar ini mengakui bahwa ia sengaja memilih bekerja di Hotel lantaran disiplin ilmunya lebih condong kepada dunia tourism, selain itu ia juga mengaku ia sengaja memilih Bali untuk sekedar mencari pengalaman, “Dulu kan aku masih single, jadi ada kesempatan untuk mencari pengalaman dan bersenang-senang di Bali,” tutur perempuan berwajah Indo itu.

Setelah satu setengah tahun di Bali, alumni SMEA Tarakanita Jakarta ini memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan mulai bekerja di sebuah perusahaan Agensi tepatnya di BBDO Komunika Corporate Relations sebagai accaount Manager. Setelah itu ia sempat keluar masuk ke berbagai perusahaan dalam dan luar negeri.

Sampai akhirnya ia mendapatkan kesempatan disebuah perusahaan yang membuatnya benar-benar mantap berkarir dibidang Publik Relation, “Yang membuat saya benar-benar mantap berkarir di PR saat saya bekerja di Indo Pacific Reputation Management, di tempat ini saya benar-benar belajar banyak tentang PR,” ujar Marianne. Setelah lima tahun di Indo Pacific, ia mendapat tawaran bekerja di MOMENTUM McCann Worldwide, sebelum akhirnya ia berkarir di Pulse Communication hingga saat ini.

Ketertarikan Marianne terhadap karirnya saat ini memang bukan tanpa alasan. Marianne bertutur bahwa dunia yang saat ini ia geluti membanwa dampak yang cukup baik buat masyarakat, “Publik Relation itukan bertugas menginformasikan kepada masyarakat tentang kebaikan dan manfaat dari sebuah produk, bukan berpromosi tentang sebuah produk itu terbaik atau semacamnya, jadi hal semacam itulah yang membuat saya merasa nyaman bekerja di bidang ini,” paparnya.

Di akui Marianne, keberhasilannya dalam meniti karir tak lepas dari peran sang bunda dalam mendidik dan membimbingnya. “Ibu saya secara tak langsung memang banyak berperan dalam keberhasilan saya dalam berkarir. Ibu saya itu seorang yang benar-benar independent, mungkin karena ia datang dari luar negeri, ia jadi lebih sering melakukan sesuratu tanpa bantuan orang lain. Sehingga ibu banyak mengajarkan saya untuk tak bergantung pada orang lain, dan semua itu terbukti saat ini,” beber Marianne.

Ditanya tentang perkembangan perempuan Indonesia saat ini, Perempuan berkulit putih ini berujar, bahwa perempuan Indonesia saat ini  telah memeiliki kesempatan yang lebih besar dalam menentukan pilihan hidupnya, “Sekarang ini pendapat yang menyatakan laki-laki sebagai pihak paling berhak dalam mencari nafkah sudah semakin berkurang, jadi perempuan juga sudah punya kesempatan yang sama dengan laki-laki,” cetus Marianne.

Sementara tentang perempuan cantik, Marianne berpendapat bahwa cantik itu adalah keseimbangan, “Banyak orang bilang bahwa cantik itu harus dari luar dan dalam, memang benar, tapi menurut saya cantik itu harus seimbang, kita cantik tak cantik, jelek tak jelek, atau sifat kita baik dan tak baik yang penting bisa balance saya rasa kita bisa tampil menarik, dan yang paling menarik mungkin perempuan itu harus banyak ‘isi’-nya, dalam artian perempuan itu selalu bisa memahami topic apa saja yang dilontarkan lawan bicaranya,” pungkas Marianne.


Give a comment?